Pembaca yang budiman…Lita cerita ini karna Lita sangat prihatin dengan dampak sinetron yang banyak tayang di tv kita…terutama terhadap anak-anak dibawah umur…apalagi yang notabene anak itu dilahirkan dengan kemampuan imajinasi yang sangat tinggi…
Tanpa bermaksud untuk menyudutkan pihak manapun…Lita hanya berbagi…dan berharap semua orangtua mau mendampingi anak-anaknya dan memberikan penjelasan kepada mereka selagi menonton tayangan-tayangan tv…
Cerita ini Lita alami sendiri bersama suami…dan bukan mengada-ada…hanya nama kami samarkan…
Lita dan suami alhamdulillah memiliki sebuah usaha di sebuah toko daerah bekasi. Tentunya kami memiliki tetangga yang mempunyai usaha lain…kebetulan toko sebelah toko kami mempunyai seorang anak gadis kecil berusia 5 tahun…sebut saja namanya Indah, anaknya cantik, pintar ( itu aku ketahui setelah aku sempat mengajari dia bahasa inggris dan matematika beberapa kali )…dan pintar bicara seperti orang dewasa.
Sampai pada suatu hari terjadi percakapan Lita dengan Indah..
Indah : “ Tante Lita sini deh, Indah mau cerita! ”
Lita : “ Ada apa sayang? “
Indah : “ Tante, Indah mau bilangin ke tante tentang om bos ( Indah panggil suamiku dengan sebutan om bos )…tapi janji ya tante ga bilang ke om bos kalo ini Indah yang cerita? “
Lita : “ Iya deh. Emang ada apa sih Indah? Kok pake rahasia gitu? “
Indah : “ Tante tau ga kalo om bos tuh pacaran sama Ibu Cika dan Ibu Berti…mereka itu ibu guru Indah di tk. “
( Gila!!! Sumpah kaget banget waktu denger itu…tapi Lita anggap itu adalah ocehan anak kecil dan Lita teruskan bertanya )
Lita : “ Ah masa? Indah tau darimana ? “
Indah : “ Ih Tante Lita ga percaya sih. Indah tau dari om bos. Ibu Cika itu cantik, rambutnya panjang sebahu, pake gelang sama anting. “
Lita : “ Iya deh tante percaya. Nanti kalo ada cerita lagi kasih tau tante ya sayang! “
Indah : “ Iya tante pasti Indah kasih tau kok. Tapi jangan bilang om bos ya ? “
Pembicaraan kami berhenti sampai disitu tapi ada pembicaraan2 selanjutnya. Lita cerita ke suami dan suami bilang itu semua hanya rekayasa anak kecil. Awalnya Lita sempat curiga juga ke suami, jangan2 bener tapi setelah ada pembicaraan selanjutnya yang makin lama makin ga masuk akal, Lita jadi yakin ini semua karena imajinasi Indah yang terlalu tinggi. Terlebih lagi setelah pembicaraan yang berikut :
Indah : “ Tante, udah ketemu sama Ibu Cika belum? “
Lita : “ Belum. Mang kenapa Indah ? “
Indah : “ Tante ga tau kan kalo om bos udah ke rumah Ibu Cika. Terus om bos buka baju dirumahnya Ibu Cika. “
Lita : “ Ah masa ? Coba tante tanya sama om bos. “
Indah : “ Jangan tante, nanti om bos ga percaya lagi sama Indah. “
Ternyata pembicaraan itu terjadi juga antara Indah dengan suami Lita.
Indah : “ Om bos, udah jadi kencan belum sama Ibu Cika ? “
Suami : “ Belum Indah. Mang kenapa ? “
Indah : “ Yah, om bos payah. Sini Indah kasih tau caranya bisa kencan sama Ibu Cika. “
Suami : “ Gimana caranya ? “
Indah : “ Gini, nanti om bos telpon Ibu Cika terus dateng kerumahnya. Atau om bos ajak Ibu Cika kemana gitu, nah diminumannya Ibu Cika, om bos taro obat biar Ibu Cika pingsan terus pas Ibu Cika pingsan, kan om bos bisa buka bajunya Ibu Cika terus ciumin Ibu Cika deh, enak kan om ? “
Suami : “ Oh gitu ya ? “
Pembicaraan diakhiri oleh suamiku karena suamiku khawatir dengan imajinasi Indah yang makin lama makin ga masuk akal dan belum waktunya. Suamiku cerita padaku dan aku pun merasa khawatir. Awalnya kami menanggapi pembicaraan dengan Indah karena kami pikir itu hanya imajinasi anak kecil yang wajar, tapi begitu pembicaraan sudah seperti itu, akhirnya kami menghentikan semuanya. Kmi memutuskan untuk tidak menanggapi lagi cerita dari Indah. Setiap dia memanggil kami, pasti kami alihkan pembicaraannya, walau sampai sekarang Indah ga pernah berhenti untuk bercerita tapi kami tetap ga menanggapinya lagi.
Nah demikian cerita dari Lita. Coba perhatikan baik-baik cerita dari Indah yang Lita pertebal. Apa mungkin kalimat seperti itu datang dari pemikiran seorang anak kecil yang masih berusia 5 tahun? Ga ada sekolah manapun yang mengajarkan begitu. Atau orangtuanya?? Ga mungkin juga membicarakan itu kepada anaknya. Setelah Lita amati Indah beberapa hari, ternyata Indah suka nonton sinetron tanpa pengawasan dari orangtuanya. Bukan berarti Lita menyalahkan orangtuanya tapi memang orangtuanya benar-benar sibuk.
Sekiranya akan lebih baik jika tayangan-tayangan hiburan semacam sinetron bisa dipertimbangkan untuk memberikan tayangan yang lebih berpendidikan namun bisa dikemas seapik dan semenarik mungkin. Tidak melulu tentang percintaan, materi, kekerasan, pengkhianatan, dll.
Anak usia dini sangat cepat dalam menangkap apa yang dia dengar, dia lihat, dan dia rasakan. Seharusnya diusianya, mereka menikmati tayangan kartun atau drama musik yang penuh dengan unsur-unsur pendidikan atau permainan.
Sekian cerita Lita, semoga ini bisa menjadi masukan bagi kita semua terutama para pembuat tayangan-tayangan, karena kita ga mau kan kalo kita kehilangan satu generasi hanya karena tayangan yang tidak baik untuk anak.
Cerita ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pihak manapun, hanya berbagi.
26 februari 2009
Lita